Stairway to Wisuda

21.44

Boo!
😸
.
.
.
 .

Hi, akhir-akhir ini ngeblog cuma buat share-share resep masakan sama review makanan ala-ala doang ya. Jadi rindu cerita-cerita biasa gini. Sebenarnya daridulu bingung buat ngebahasain diri sendiri apa. Ada beberapa post yang pakai "gue" dan ada post baru-baru yang pakai kata ganti "aku". Sesungguhnya dalam kehidupan bermasyarakat ini, Anindya kalau ngomong ya pakai "aku-kamu" gituuu, tapi berhubung bikin blog ini tuh jaman SMP dan jaman SMP itu lagi hits banget blognya Raditya Dika yang kemudian dibukuin itu, jadiii di blog ini ya kalau cerita ya ke-gue-gue-an. Kemudian keterusan. Tapi kok lama-lama nggak nyaman. Apa pakai "bunda" aja ya? :')


Jadi, bunda sidang Juni akhir tahun lalu. Geleuh. Jangan bunda ya. Lama sih gue skripsiannya, karena suatu hal dan lainnya, tapi karena ketidakinginan untuk lulus sendirian tanpa teman, akhirnya dikebut dan bisa sidang Juni. Kelar sidang buru-buru ngurus daftar wisuda karena desas-desus yang beredar, maksimal daftar wisuda untuk bulan Agustus itu paling lambat 30 Juni. Alhamdulillah, kelar juga daftar sidangnya. Perjalanan pulang kelar daftar sidang, gue jatuh dari motor. I'm like TT, just like TT😢. Gara-gara kepleset bensin yang tumpah dari truk. Yak, gue jatuh di jalur lewat-lewat truk. Puasa puasa. Yang lewat cuma pada ngeliatin. Pengin TT ga sih... Akhirnya gue lebih memilih bangkit daripada harus TT di jalan mengingat kemungkinan terburuk adalah kelindes truk dalam keadaan belum wisuda. Sumpah gue kemarin mikirnya gitu... Bangkit sendiri kah? Cencu cidak, untungnya ada beberapa bapak-bapak yang baik hati menolongquw dan motorquw untug bangkid dari keterpurukand guna menyongsong masa depan.
*TT ini maksudnya nangis ya...

 
Apakah nasib buruk yang menimpa Anindya selesai sampai di situ saja? 😲 Tentu tidak, karena setelah jatuh dari motor, beberapa hari setelahnya gue kena DB dan tipes.💁 Baru ketahuan DB sama tipes saat gue memasuki masa kritis. Bagooos. Jadi gue ngerasa nggak enak badan dari hari Sabtu, pala pusing banget, tapi ya gue mikirnya pusing biasa, jadi diminumin decolgen. Tapi kok nggak sembuh ya, besok malemnya tiap maghrib menggigil. Menggigil hebat. Padahal fan dan AC nggak dinyalain, tapi berhubung emang lagi musim hujan jadi gue mikirnya wajar aja sih. Yang bikin nggak wajar adalah gue udah pake sweater tebel, celana panjang, kaos kaki, dan selimut tebel, tapi tetap menggigil. Tak lama setelah itu, keajaiban pun terjadi. Gue nggak doyan makan. Sama sekali. Makanan masuk, muntah. Bau masakan, muntah. Kaya ibu-ibu trimester awal. Padahal sejauh ini belum ada partner yang bisa diajak bekerja sama untuk meneruskan keturunan. Kemudian mama curiga kok parah banget gue sampai nggak doyan makan. Diajak makan soto pun nggak mau, di warung soto cuma minum teh anget yang saat itu terasa sangat comforting bagaikan dipeluk Lee Dong Wook. Aw!👄 Securiga-curiganya mama, sorenya gue tetep disuruh belanja sawi ke pasar buat tambahan bakso yang akan disuguhkan ke ibu-ibu pengurus RT yang rapat di rumah.


Akhirnya Selasa malam periksa ke RS terdekat karena suhu badan gue tinggi. 40°C. Gue udah ngerasa pasti ini tipes nih. Gue udah cerita semua keluhan yang gue rasain dari hari Minggu sampai Selasa. Komplit. Dokternya bilang "Ini paling cuma lambungnya aja yang kena. Saya kasih obat.", yang gue bales "Dok, tapi ini lidah saya udah putih banget lho." Tapi dokternya tetap berpendapat kalau gue sakit lambung. Mama rada-rada kurang puas sama diagnosanya pada akhirnya minta izin buat cek lab, terus minta surat pengantar buat cek lab, kira-kira apa aja yang harus diperiksa. Dokternya bilang kalau mau cek lab langsung aja, nggak usah pakai surat pengantar.


Besok paginya gue cek lab ditemenin mama, dan petugasnya nanya mau cek apa, mama bilang cek widal. Ditanya dong sama petugasnya tentang surat pengantar dokternya, gue cuma bisa bilang "Nggak dikasih, mbak. Katanya kalau mau cek langsung cek lab aja." sembari dalam hati mengucapkan kata-kata yang tidak sepantasnya diucapkan oleh remaja putri seusiaqu :') Terus siangnya ditelpon sama lab bahwa gue fix tipes. Terus buru-buru ke RS Hermina Banyumanik, karena kapok ke rumah sakit terdekat yang sebelumnya. Akhirnya dinyatakan bahwa gue DB dan tipes 😢 Btw, dokter dan suster UGD RS Hermina Banyumanik amat helpful dan menyenangkan. Mas dan mbak yang tugasnya ambil darah juga pandai, nggak sakit kalau nyuntik.


Setelah menjadi pesakitan selama beberapa hari, akhirnyaaa gue pun SAH SUDAH MENJADI SARJANA HUKUM pada tanggal 9 Agustus 2016! 🎓 WOO-HOO!!!




...now what? 😁

You Might Also Like

1 komentar